Perempuan Penenun Sampah Plastik
Dewi Dee (858)
544 10 14-03-2013
7 suka
19-07-2019, 15:57:01

  • Sampah plastik jadi masalah hampir di seluruh dunia. Di Lombok, ada perempuan-perempuan yang memanfaatkan sampah plastik, seperti bekas kemasan kopi, snack dan lain-lain, jadi bernilai ekonomis.
  • Pencetus gerakan bikin kerajinan sampah ini adalah Aisyah. Sampah plastik tak bernilai diolah jadi sebuah karya seni dan bernilai ekonomis tinggi. Kerajinan ini pun sudah ekspor ke beberapa negara Eropa, Jepang, maupun Australia.
  • Aisyah pernah diundang khusus untuk melatih orang-orang Aborigin di Darwin Australia untuk membuat kerajinan dari sampah plastik
  • Aisyah juga mengajak bersama para perempuan di kampung halamannya, termasuk perempuan dengan disabilitas.

Satu persatu bungkus kopi itu dilipat jadi bagian kecil, berbentuk persegi panjang. Lipatan satu persatu digabungkan dengan lipatan lain, membentuk siku antara sambungan satu dengan lain. Setelah tersusun puluhan lipatan, terlihat membentuk tali. Seratus bungkus kopi sachet sepanjang sekitar satu meter.

Zohriah melipat bungkus kopi. Rekannya, Maeni, memilah bungkus-bungkus itu.

Setelah mencapai 1-2 meter, Zohriah kembali melakukan hal yang hingga seluruh bungkus kopi habis. Setelah terbentuk tali bak rantai, sambungan bungkus kopi itu membentuk pola. Posisi gambar, warna, bahkan tulisan dalam bungkus kopi itu berada di garis sama.

Zohriah selalu bersama Maeni. Maeni harus memastikan, tak ada merek kopi sachet tercampur.

Zohriah, penderita tunanetra. Dia mengenali bentuk dan komposisi gambar, garis, tulisan di dalam bungkus itu, tetapi tak bisa membedakan merek. Tangan perempuan ini sudah begitu terlatih membuat lipatan dengan ukuran sama persis, posisi lipatan nyaris tak pernah keliru.

Zohriah perlu rekan yang bisa melihat guna memastikan tak ada merek kopi sachet tercampur. Kalau ingin membuat tali dari bungkus kopi tercampur, itu juga harus disiapkan.

Setelah tali-tali dari rangkaian bungkus kopi sachet itu terkumpul, ada rekan yang akan merangkai jadi lembaran. Ukuran bisa seperti keryas kwarto, ada juga lebih besar, tergantung pesanan dari rekan bagian jahit. Dari lembaran-lembaran itu, lalu tim jahit membuat jadi aneka kerajinan tangan. Ada tas pinggang, dompet, tas punggung, dan berbagai karya lain.

Komposisi gambar dalam bungkus kopi yang tersusun diagonal itu jadi motif dalam tas. Begitu juga tulisan dalam bungkus kopi jadi motif, layaknya karya seni tinggi.

Bungkus kopi, sabun, detergen, sampo, dan semua jenis berbahan plastik bisa dirangkai jadi lembaran-lembaran, kemudian dibuat jadi tas. Begitu juga bungkus pasta gigi bisa disulap jadi tas cantik. Bahkan, yang lebih ekstrem, ban dalam bekas. Ban dalam bekas jadi karya seni tinggi, seperti tas model tak kalah dengan merek terkenal, bahkan bisa jadi sepatu.

Untuk barang-barang bernilai seni tinggi ini, dibandrol seharga Rp150.000–Rp500.000, ada juga lebih tinggi tergantung tingkat kesukaran.

Barang-barang kerajinan yang diberi label Eco Lombok Craft ini sudah dikirim ke Belanda, Jamaika, Jepang, dan Australia. Bahkan penggagasnya, Siti Aisyah, pernah diundang khusus ke Darwin, Australia, untuk melatih orang-orang Aborigin memanfaatkan sampah plastik dan ban dalam bekas jadi barang bernilai seni.

Aisyah, perempuan dari Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, memulai usaha di Batam, Kepulauan Riau. Dia pernah menikmati masa kejayaan Batam. Beragam usaha dilakoni, salah satu yang cukup besar adalah rumah makan. Merasa jenuh di Batam, Aisyah hijrah ke Jogjakarta.

Dia mendengar cerita dari kawan, Jogja itu kota pelajar, banyak potensi. Aisyah membayangkan dengan banyak mahasiswa dan pelajar dari berbagai daerah di Indonesia peluang bisnis terbuka lebar. Aisyah memutuskan memboyong usaha ke Jogja.

Perkiraan Aisyah meleset. Dia yang terbiasa bekerja keras di Batam, merasakan suasana di Jogja terlalu lambat. Harga-harga di Jogja juga terlalu murah. Usaha tidak berjalan mulus. Kemudian Aisyah kembali ke kampung halaman.

Dia sempat melakoni beberapa usaha. Dia juga aktif di beberapa kegiatan sosial, salah satu kegiatan lingkungan.

Aisyah tinggal di kampung padat penduduk. Banyak penduduk miskin, banyak perempuan menganggur. Permukiman padat penuh sampah. Aisyah mencoba usaha kerajinan tangan. Salah satu yang dia lirik adalah kain perca. Aisyah mendapatkan kain perca dari beberapa penjahit. Kebetulan di sekitar rumahnya, banyak penjahit. Aisyah juga melirik sampah plastik. Dia membeli sampah plastik dari pemulung seperti bungkus kopi, aneka camilan, sabun, shampo, dan sampah plastik lain.

Bank sampah

Warga juga diminta mengumpulkan sampah rumah tangga mereka. Sampah itu “ditabung” di Aisyah. Belakangan Aisyah menamakan itu “Bank Sampah NTB Mandiri.”

Sampah-sampah ditabung, Aisyah memberikan buku tabungan. Semua nasabah ibu-ibu rumah tangga sekitar rumah. Perlahan Aisyah juga mengajak mereka tak sekadar jadi nasabah, tetapi ikut produksi aneka kerajinan tangan dari sampah plastik itu.

“Banyak di sini yang pintar menjahit,’’ kata Aisyah.

Ketika kerajinan dari sampah itu laku dijual, makin banyak yang bergabung dengan Aisyah. Ibu rumah tangga banyak yang jadi nasabah, banyak juga mitra dalam produksi aneka kerajinan. Mereka juga makin terampil, Aisyah mendampingi dan berikan pelatihan mereka dengan telaten.

Dia melangkah lebih jauh. Kampung halaman yang dulu kumuh, mulai dia tata. Anak-anak muda dia ajak. Melihat kiprah Aisyah selama ini, banyak anak muda bergabung menjadi relawan. Para orangtua, terutama ibu-ibu mendukung penuh.

Lorong-lorong sempit di kampung dicat warna-warni. Tempat pembuangan sampah disulap jadi taman bermain. Rumah-rumah warga makin cantik. Aisyah kemudian, menamakan gerakan ini dengan nama Kawis Krisan, singkatan dari Kampung Wisata Kreatif Sampah Terpadu.

Sebelum kampung-kampung wisata booming di Kota Mataram, warga Pejeruk Ampenan, sudah memulai. Kawis Krisan ini jadi kampung pertama yang jadi “kampung warna-warni.”

Belakangan gerakan serupa ada di tempat lain. Merasa tersaingi? Aisyah justru makin senang. Kegiatan positif bersama anak-anak muda di kampungnya diikuti kampung lain.

Bangun komunitas

Pemerintah NTB mencanangkan program zero waste. Dalam program ini, diharapkan tak ada lagi sampah yang dibuang sembarangan. Sampah dikelola mulai dari tingkat kampung, tingkat desa, hanya sisanya dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Sayangnya dalam program ini hanya mengelola sampah-sampah bernilai ekonomis, seperti botol bekas air mineral, kardus, kertas, kaleng minuman bersoda. Sampah plastik lain tidak dikelola, apalagi sampah organik.

Aisyah tak sekadar membisniskan sampah plastik juga mengedukasi warga kampung, maupun komunitas-komunitas anak muda. Bertahun-tahun menjalankan kegiatan di Bank Sampah NTB Mandiri, Aisyah melebarkan sayap ke berbagai kegiatan lain. Namanya pun berkibar, jadi aktivis lingkungan.

Aisyah tetap pada semangat awal, kegiatan lingkungan, bisnis, dan sosial. Dalam merekrut tim di workshop, Aisyah memberikan prioritas pada perempuan dan disabilitas. Hampir setiap pekan dia memberikan pelatihan pengolahan sampah pada komunitas-komunitas. Tak sedikit pelatihan diselenggarakan Aisyah dibiayai dari koceknya sendiri. Begitu juga kalau ada komunitas belajar di workshop Bank Sampah NTB Mandiri, Aisyah selalu terbuka. Syaratnya, hanya satu, Aisyah meminta mereka harus menularkan ilmu yang dipelajari ke komunitasnya.

Setiap akhir pekan, beragam kelompok dari kampus, ibu-ibu rumah tangga, komunitas sosial, kelompok disabilitas, pelajar, bahkan sampai rombongan pejabat datang untuk melihat kerja Aisyah. Di tempat Aisyah, mereka baru yakin bahwa zero waste benar-benar ada.

Sampah yang bernilai ekonomis tinggi, yang biasa diambil pemulung justru tak banyak di tempat Aisyah. Sudah banyak yang mengelola sampah jenis itu. Sampah plastik bungkus makanan, minuman, dan bungkur beragam jenis kebutuhan justru diolah Aisyah. bersama tim, sampah itu dibersihkan. Dicuci, dikeringkan, lalu dirajut jadi berbagai karya seni.

Untuk sampah organik, Aisyah membuat bak komposter. Satu bak komposter itu, jika dipakai untuk satu rumah tangga kecil, bisa menampung sampah organik selama setahun. Air rembesan dari sampah bak komposter itu menjadi pupuk. Setelah sampah organik di dalam bak kering, bisa jadi pupuk organik. Bisa dipakai sendiri atau dijual.

“Jadi, tidak ada yang namanya sampah. Semua bisa dikelola,’’ kata Aisyah.

Sampah-sampah plastik berukuran kecil seperti tutup botol, sedotan, dan jenis lain dibuat jadi aneka mainan, maupun seni instalasi. Mainan itu dipajang di sekitar workshop Bank Sampah NTB Mandiri.

Aisyah tak pelit berbagi ilmu dan tak takut jika tersaingi. Dia malahan senang kalau ada yang mau belajar. Tak heran, setiap pekan Aisyah sering diundang oleh komunitas untuk mengisi acara. Tak hanya di sekitar Kota Mataram, dia diundang ke berbagai komunitas.

Aisyah pernah menginjakkan kaki ke Jepang dan Australia. Dia berikan ceramah pengelolaan sampah, dan melatih mereka langsung mengubah sampah plastik menjadi barang seni.

Ke Australia, Aisyah khusus diundang melatih orang Aborigin di Darwin. Dia melatih mereka memanfaatkan barang-barang bekas untuk jadi kerajinan tangan seperti tas, sepatu, dompet, dan hiasan. Barang-barang kerajinan itu bisa dipakai sendiri atau dijual.

Dia juga pernah berkunjung ke beberapa negara. Mendapat berbagai penghargaan di tingkat daerah dan nasional, tak membuat Aisyah lupa menjejak kaki di bumi. Dia selalu ingat komitmen awalnya, memberdayakan komunitas sekitar.

 

Sekolah alam

Kini, dengan jaringan yang dimiliki di tingkat nasional, internasional, Aisyah makin memperluas jaringan lokal. Aisyah masuk ke desa-desa, membangun mimpi, membangun sekolah alam. Sekolah itu di bawah Yayasan Lombok Eco International Connection (LEIC).

Saat ini, sekolah sekolah pertama sudah berdiri di Dusun Mentigi, Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU). Sekolah ini bukan seperti sekolah umum, siswa masuk setiap hari. LEIC hanya membuka kelas pada Sabtu dan Minggu. Itupun setelah siswa pulang sekolah. Sasaran sekolah ini anak-anak sekolah di kampung itu. Mirip seperti kegiatan ekstrakurikuler.

Di LEIC, mereka memiliki kurikulum khusus lingkungan. Bangunan sekolah pun memanfaatkan bahan alam, seperti sampah sebagai bahan ajar. Paling utama, memberdayakan warga sekitar. Semua anak di kampung sekitar diajak terlibat, para ibu rumah tangga juga ikut.

“Karena tak selamanya kami bisa, jadi kedepan harapan kami dilanjutkan oleh mereka,’’ kata Aisyah.

Sekolah rintisan ini didukung oleh para sahabat Aisyah. Mereka kebanyakan saling kenal melalui berbagai kegiatan sosial. Mereka memiliki visi misi sama, bahwa, kalau ingin membuat lingkungan lebih baik harus mengubah cara pandang terhadap lingkungan.

Pandangan hidup tentang lingkungan itu, katanya, tak bisa hanya melalui kampanye semata, atau hanya melalui program di pemerintahan. “Ini harus jadi gerakan jangka panjang.”

 

Sumber : www.goodnewsfromindonesia.id

 

Download SISKO di Google Playstore (FREE)

Pesan

Notifikasi